Pada saat ini per tanggal 31 Maret 2019 terdapat data sebagai berikut :
1. Pasien positif : 2.092
2. Pasien meninggal dunia : 191
3. Pasien sembuh : 150
Virus corona atau coronavirus adalah keluarga besar virus yang menyebabkan beberapa penyakit. Virus ini menyerang sistem pernafasan, Di antaranya adalah flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome ( MERS-CoV), Severe Acute Respiratory Syndrome ( SARS-CoV), hingga yang terbaru, Covid-19. Melansir laman resmi Badan Kesehatan Dunia (WHO), virus corona bersifat zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia. Pada hewan, virus corona dapat menyebabkan diare, seperti pada sapi dan babi, serta penyakit pernapasan atas pada ayam. Berbagai macam virus corona yang diketahui dapat menginfeksi manusia : 1. 229E (alpha coronavirus) 2. NL63 (alpha coronavirus) 3. OC43 (beta coronavirus) 4. HKU1 (beta coronavirus) 5. MERS-CoV (beta coronavirus yang menyebabkan mers) 6. SARS-CoV (beta coronavirus yang menyebabkan mers) 7. SARS-COV-2 (beta coronavirud yang menyebabkan Covid-19) Coronavirus awal ditemukan di provinsi Wuhan, China. Pada Desember 2019 lalu, China mengumumkan ada suatu penyakit yang sedang meanda negaranya, dan jumlahnya juga melanda setiap harinya. setelah beberapa lama virus tersebut menyabar ke berbagai wilayah lainnya di China, dan juga berbagai wilayah lain termasuk Indonesia. DIndonesia kasus awal ditemukannya virus corona yaitu di Kota Depok, tepatnya di perumahan Studio Alam Perma, hanya sekitar 2 km dari rumah saya. Selanjutnya kasus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, wilayah paling banyak terampak yaitu provinsi DKI Jakarta.
Total 1.971 Kasus positif, 98 Meninggal, 58 sembuh, 219 Isolasi mandiri di Jakarta per 1 April 2020. kurva di Indonesia pun kian hari makin bertambah.
Dampaknya sangat terasa bagik kehidupan, yaitu menurunnya perekonomian, akibat dari pengurangan adanya interaksi berskala besar, sekolah dan kantor ditutup, meskipun sebagian besar orang masih harus tetap bekerja diluar sana, terutama yang berkerja dibidang jasa dan layanan hal yang terpenting adalah menjaga kebersihan dan menjaga jarak antar sesama individu. Hal ini sangat dirasakan bagi siswa, yaitu akibat ditutupnya sekolah, siswa merasa gabut dan bosan harus belajar online dirumah dengan begitu tugas yang diberikan kepada siswa sangat banyak dan tidak ada habisnya.
Para tenaga medispun tidak dapat pulang kerumahnya selama merawat pasien virus corona, karena takut membawa virus kepada keluarganya, setelah mereka selesai menjalankan tugas merekapun dijemput oleh bus yang disediakan oleh bus metrotrans milik PT. Transportasi Jakarta untuk dibawa ke hotel khusus unuk mereka beristirahat.

Namun apa saja gejala penyakit corona ini?
Gejala Virus Corona
Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa berupa gejala flu, seperti demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala bisa memberat. Pasien bisa mengalam demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Gejala-gejala tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona.
Namun, secara umum ada 3 gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu:
1. Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius)
2. Batuk
3. Sesak napas
Menurut penelitian, gejala COVID-19 muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah terpapar virus Corona. karena virus melakukan inkubasi terlebih dahulu. maka karena itu, Orang yang dalam pengawasan harus mengkarantina dirinya hingga empat minggu.
Namun, bagaimana virus corona ini dapat menyebar dari orang satu ke orang lainnya? Virus corona ini menyebar dari orang satu ke orang lainnya melalui cara droplet,apa itu droplet? Ada dua cara penularan virus yaitu dengan cara droplet dan airborne
1. airborne, adalah penularan virus dengan cara apabila penderita batuk atau bersin, kemudian cairan yang keluar tersebut keluar ke udara dan berterbangan di udara, lalu terhirup atau mengenai mata, mulut atau hidung orang yang sehat, maka dapat menyebabkan orang tersebut tertular, penularan ini dapat terjadi bahkan jika tidak melakukan kontak langsung dengan penderita, karena virus tersebut terbang diudara. contohnya adalah tuberlucosis (TBC) dan cacar air.
2. droplet, adalah penularan virus dengan cara apabila penderita batuk atau bersin, kemudian cairan yang keluar tersebut mengenai mata, mulut, atau hidung orang yang sehat yang berjarak sekitar 1 meter, atau melalui benda yang tertular atau ketika berjabat tangan, virus tersebut menempel ditangan lalu dibawa ke mata, mulut, atau hidung orang yang sehat maka daoat tertular. contohnya ebola dan Covid-19 yang saat ini sedang mewabah
Indonesia berada pada ranking ke-5 kasus dengan case fatality rate (CFR) tertinggi ke-5 di dunia , dengan CFR 8-10%.Pada umumnya, herd immunity atau kekebalan kelompok bisa tercapai bila populasi terinfeksi sekitar 70%. Artinya 270 juta x 70% = sekitar 189 juta orang. Kalau rerata CFR di dunia adalah 3%, maka harus ada sekitar 5-6 juta jiwa. Sementara saat ini CFR Indonesia adalah 8-10% ditambah lagi dengan Indonesia adalah negara yang luas dan banyak kepulauan, tentu akan sulit pemantauan dan prediksinya. Skenario ini adalah apabila populasi terinfeksi sekitar 70%, bagaimana kalau 90% populasi terinfeksi dengan CFR 8%? Berapa juta orang akan jatuh sakit dan meninggal karena infeksi ini? Jika kita pakai asumsi diatas, dan kita pakai CFR dunia sebagai CFR Indonesia, untuk pertanggal 26 Maret 2020 terdapat 55 kematian, artinya jumlah kasus sebenarnya adalah (55 x 100) / 4,3 = 1,279 Kasus.
Nmaun, jika fasilitas kesehatan kita tidak siap, apa yang harus dilakukan? Dengan episentrum infeksi di Jabodetabek dan Surabaya saja fasilitas kesehatan masih sulit mendapatkan APD.Selain itu alat bantu pernafasan saja hanya tersedia ibeberapa rumah akit saja. Bayangkan apabila tempat yang minim fasilitas kesehatan terkenang infeksi sebanyak yang ada di Jakarta? Bayangkan apabila infeksi ini meluas ke berbagai wilayah di Indonesia?! Bukan hanya masyarakat yang menjadi korban . tetapi tenaga kesehatan garis depanpun satu persatun akan berguguran.
Apabila kita gunakan perhitungan hari ini yaitu 191 korban, (170 x 100)/4,3 adalah 4.441 kasus, apabila perhitungan ini benar bayangkan apa yang terjadi?
Saat ini perekonomian telah menurun diberbagai sektor. artinya pemasukan negara juga berkurang, belum lagi biaya yang harus dibayarkan untuk pengobatan para pasien corona, jadi apa yang harus dilakukanj oleh pemerintah Indonesia untuk mencegah melonjaknya kurva kasus coronqa yang ada di Indonesia?
Salah satu cara untuk mencegah melonjaknya kurva virus corona adalah dengan melakukan local lockdown atau karantina wilayah, yaitu dengan menutup wilayah/ provinsi yang telah terinfeksi COVID-19.hal ini digunakan untuk memutuskan rantai penyebaran virus corona. Karantina wilayah disarankan dilakukan selama minimal 14 hari, di provinsi – provinsi yang menjadi episentrum (zona merah) penyebaran COVID-19 atau daerah lain dengan berbagai pertimbangan. Karantina wilayah akan memudahkan negara untuk menghitung kebutuhan sumber daya untuk penanganan di rumah sakit, (sumber daya manusia, alat pelindung diri/ APD, fasilitas RS). Pelaksanaan local lockdown ini dilakukan dengan melibatkan kerjasama lintas sektor yang matang dan pemerintah daerah. Pelaksanaan lockdown dan aturan pembatasan aktivitas sosial yang ketat di Provinsi Hubei, Cina telah terbukti efektif menurunkan kasus sebesar 37% lebih rendah dibandingkan kota lain yang tidak menerapkan sistem ini. Sebelum pemberlakuan lockdown, para peneliti memperkirakan SARS-CoV 2 akan menginfeksi 40% populasi Cina atau sekitar 50 juta penduduk, atau 1 pasien terinfeksi akan menularkan virus ke 2 orang atau lebih. Namun pada minggu pertama lockdown, angka ini turun menjadi 1.05. Hingga pada tanggal 16 Maret 2020, WHO mencatat 81.000 kasus di Cina.
Simulasi model oleh Lai Shengjie dan Andrew Tatem dari University of Southampton, United Kingdom menunjukkan, jika sistem deteksi dini dan isolasi ini diberlakukan 1 minggu lebih awal, dapat mencegah 67% kasus, dan jika diimplentasikan 3 minggu lebih awal, dapat memotong 95% dari jumlah total yang terinfeksi. Studi Wells dkk menunjukkan pada 3,5 minggu pertama penutupan wilayah dapat mengurangi 81,3% kasus infeksi ekspor. Penurunan ini sangat berguna untuk daerah yang masih belum atau minimal terjangkit untuk melakukan koordinasi sistem kesehatan.5,6,7 Opsi lockdown lokal/ karantina wilayah secara selektif perlu dipertimbangkan oleh Pemerintah Indonesia, melihat upaya social distancing atau pembatasan sosial berskala besar belum secara konsisten diterapkan di masyarakat. Masih terlihat kepadatan di beberapa sarana transportasi publik, sebagian tempat wisata tetap dikunjungi, sebagian perkantoran, tempat makan, taman terbuka, dan pusat perbelanjaan yang tetap beraktivitas.
Namun, perlu diperhatikan bagaimana dengan pekerja yang mendapatkan upah dengan kerja harian. Negara perlu menjamin hajat hidup seluruh warga dalam wilayah karantina , terutama warga miskin selama minimal 2 minggu karena kegiatan perekonomian akan lumpuh total! Mari kita hitung apabila Jakarta melakukan local lockdown dengan total penduduk 9,6 juta:
1. Makan 3x sehari dengan asumsi:
- Makan pagi: Rp 5.000,00
- Makan siang: Rp 10.000,00
- Makan malam: Rp 10.000,00
2. Total untuk makan adalah Rp 25.000,00 (untuk membeli beras, tahu, telor, per orang)
- Untuk 1 hari, di Jakarta: 9,6 juta x Rp 25.000,00 = Rp 240.000.000.000,00
- Untuk 14 hari di Jakarta: Rp 3.360.000.000.000,00 = 3.3 Trilyun
3. Kebutuhan listik/orang/hari kira-kira Rp 4.543,00
- Untuk 1 hari, di Jakarta: 9,6 juta x Rp 4.543,00 = Rp 43.000.000.000,00
- Untuk 14 hari di Jakarta: Rp 610.000.000.000,00 = 610 Milyar
4. Kebutuhan air/orang/hari kira-kira Rp 735,00
- Untuk 1 hari, di Jakarta: 9,6 juta x Rp 735,00 = Rp 7.000.000.000,00
- Untuk 14 hari di Jakarta: Rp 98.000.000.000,00 = 98 Milyar
5. Total Dana 14 hari di Jakarta: Rp 4 Trilyun
6. Total penerimaan pajak Indonesia per-November 2019: Rp 1.312,4 Trilyun
Dengan demikian, maka mungkin apabila melakukan local lockdown atau karantina wilayah demi mencegah penularan COVID-19 lebih lanjut. Pengembalian sebagian uang pajak dari rakyat untuk rakyat dengan adanya kejadian pandemi seperti ini merupakan tindakan yang wajar. Semoga hal ini juga menjadi bahan pertimbangan untuk memberikan sedikit keringanan biaya hidup dasar 14 hari bagi masyarakat Indonesia
Namun, kenapa pemerintah Indonesia tidak melakukan lockdown? seperti di negara-negara lain dengan melarang warganya keluar dar rumah. mereka lebih memilih melakukan physical distancing berskala besar? Sebab, jika Indonesia melakukan lockdown maka akan banyak masyarakat yang akan kekurangan bahan makanan, untu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, apabila hanya ada karantina wilayah akan menyulitkan sesuatu baik barang atau lainnya yang penting untuk keluar / masuk ke wilayah tersebut.
Di Italia, dampak dari 16 hari lockdown, warga banyak yang kelaparan dan banyak terjadinya penjarahan supermarket, hingga terjadinya beberapa kerusuhan. Kasus positif di Italia telah mencapai 100.000 dan menjadi negara kedua yang memiliki kasus tertinggi didunia. bahkan ada tambahan 5.217 kasus baru dalamm sehari. dengan total korban meninggal dunia mencapai 10.779 orang. Kedua, lockdown ini membuat terjadinya masalah kelaparan. Maka apa yang akan terjadi jika Indonesia melakukan lockdown dan mengakibatkan hal yang bserupa? tidak terbayangkan lah jika di Indonesia terjadi krusuhan seperti peristiwa Reformasi 1998.
Maka, pemerintah Indonesia menyikapinya dengan melalui physical distancing dan menutup sekolah hingga berberapa perkantoran, selain itu pemerintah sangat membatasi transpotasi publik terutama yang keluar / masuk daerah Jakarta karena Jakarta adalah tempat kasus corona terbanyak di Indonesia denagan total 800 kasus.kementrian perhubungan juga telah mengeluarkan surat untuk semua operator bus untuk membatasi transportasi umum menuju wilayah Jabodetabek.



Selain pembatasan transportasi Jabodetabek, pemerintah meliburkan kantor-kantor dan sekolah, walaupun sebagian besar orang masih harus berkerja di kantor. Pemerintah juga berencana menghapus ujian nasional ditahun 2020 ini. untuk mencegah adanya kumpulan. tetapi orang tua murid dan siswa masih bingung denan seleksi penerimaaan murid baru karena tidak ada nilai yang bersifat setara. bisa jadi UN ditunda, ataupun dihapuskan. semoga saja jika UN dihapuskan, untung jenjang SD ataupun SMP tidak menambah penerimaan murid baru di jenjang berikutnya melalui jalur orang dalam :v saya juga awalnya ingin sekali masuk sekolah negri di Depok, tapi terlalu banyaknya penerimaan melalui jalur orang dalam yang sangat merepotkan, bahkan yang cukup pintar-pun tidak dapat keterima, padahal saat itu belum adanya pandemi covid-19, sarannya untuk Kota Depok untuk lebih memperbanyak sekolah negri yang ada terutama jenjang SMP dan SMA. dan juga menindak murid yang menggunakan jalur orang dalam.
Pembelajaran melalui media online juga kurang efektif dan merepotkan,
Selain itu, Ketersediaan APD yang cukup sangat penting dalam kondisi pandemi COVID-19 untuk para tenaga medis. Bila APD yang cukup tidak tersedia, ditakutkan akan berdampak buruk bagi tenaga kesahatan maupun pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia. Tapi pemerintah menyatakan bahwa pemerintah pusat memang telah mendistribusikan 105.000 APD melalui pemerintah daerah (pemda). Namun, kebutuhan APD selama pandemi COVID-19 adalah hal yang dinamis. Penanganan kasus kekurangan APD oleh pemerintah RI dapat mencontoh tindakan negara lain. Kelangkaan APD di Inggris membuat tenaga kesehatan, termasuk dokter di negara tersebut mengancam untuk tidak melanjutkan tugas mulianya.10 Kekurangan suplai APD di Inggris langsung direspon oleh National Health Service United Kingdom (NHS UK). Pihaknya menyediakan nomor telepon hotline yang aktif 24 jam sehari untuk pelaporan langkanya APD. Pelaporan dapat dilayangkan juga melalui email.
Dalam surat pernyataannya, NHS UK menyediakan layanan antar dan dukungan penyediaan APD 24 jam sehari selama 7 hari seminggu. Hal ini dilakukan NHS UK untuk memastikan staf medis dalam kondisi aman. Dalam satu hari, NHS UK mengirimkan 2,6 juta masker medis dan 10.000 hand sanitizer ke fasilitas pelayanan kesehatan di London saja. Penyediaan APD tersebut juga dilakukan untuk praktik klinik mandiri, dokter gigi, apotek, panti asuhan, dan panti jompo Kemudian pemerintah juga mengeluarkan aturan yang sangat tegas untuk diam di rumah. Isolasi mandiri dengan cara diam di rumah sudah dibahas di berbagai studi. Dengan tingkat kepatuhan tinggi (> 70%) berdasarkan 16 penelitian, karantina di rumah efektif dalam memperlambat penyebaran penyakit. Terdapat beberapa laporan kasus penyebaran virus SARS-CoV-2 dari individu asimtomatik (tanpa gejala) maupun pre-simtomatik (dengan gejala yang belum muncul).12 Banyak individu di Indonesia yang kemungkinan besar sudah terpapar kasus positif COVID-19 di tempat umum maupun di rumah. Dengan karantina 50% individu terpapar saja, dapat berdampak pada penurunan jumlah kasus selama epidemic peak sebanyak 25%, serta penundaan epidemic peak tersebut sekitar 1 minggu.
Namun, lebih dari 500 akademisi di dunia menyatakan bahwa pembatasan sosial (social distancing) tidak cukup untuk mengontrol penyebaran infeksi SARS-CoV-2, sehingga yang dibutuhkan ialah tindakan pembatasan yang lebih lanjut
Aturan tegas perlu diberlakukan untuk membuat rakyat tetap diam di rumah selama periode pembatasan sosial ini. Denda spesifik diberikan untuk setiap orang maupun perusahaan yang melanggar. Kerjasama dan koordinasi Pemerintah seluruh elemen masyarakat (seperti TNI, POLRI, pemimpin daerah, pemuka agama, tokoh adat) sangat dibutuhkan sehingga menjadi gerakan sosial. Pelajaran akibat keterlambatan dan ketidakdisiplinan dalam penerapan social distancing dari negara Italia dan Iran, menyebabkan jumlah kesakitan dan kematian yang meningkat drastis dalam hitungan hari
ungan hari. Di Australia, setiap orang yang melanggar didenda AU$ 1.000 dan perusahaan juga didenda AU$ 5.000 jika melanggar peraturan isolasi mandiri yang dikeluarkan pihak negara bagian New South Wales. Pelanggar peraturan juga dapat diberikan sanksi penjara maksimal 6 bulan. Untuk menegakkan peraturan tersebut, 70.000 polisi dikerahkan untuk patroli dan pemeriksaan acak di beberapa lokasi di masyarakat. Dalam kegiatan patrolinya, pihak berwenang juga dilengkapi dengan masker dan alat pelindung diri (APD).Saat ini kementerian kesehatan RI (Kemenkes RI) telah mengeluarkan protokol isolasi mandiri yang berpotensi menjadi acuan peraturan yang tegas. Jika diterapkan di Indonesia sesegera mungkin, hal ini dapat membuat efek jera terhadap pelanggar peraturan dan juga menurunkan jumlah kasus saat epidemic peak COVID-19 di Indonesia.
Jumlah kasus COVID-19 yang diperkirakan semakin meningkat secara eksponensial di berbagai daerah di Indonesia, dengan perkiraan 30% kasus masih belum terdiagnosis (underdiagnosed) di tengah masyarakat dan sekitar 8% kasus berat yang membutuhkan perawatan intensif, akan menjadi beban bagi rumah sakit rujukan maupun non rujukan. Daya tampung, fasilitas, dan sumber daya rumah sakit di Indonesia saat ini tidak sanggup menerima ledakan kasus ini. Rumah sakit memiliki keterbatasan obat –obatan , APD, ruang isolasi, ruang perawatan intensif, dan mesin ventilator kurang memadai. 4 Sumber daya tenaga kesehatan dan tenaga penunjang sangat terbatas, ditambah lagi dengan tingginya jumlah tenaga medis yang terinfeksi bahkan meninggal akibat virus korona ini.
Solusi untuk masalah ini adalah rencana strategis mitigasi pasien suspek dan positif corona dengan membagi perawatan pasien menjadi sebagai berikut : - Pasien ODP (orang dalam pemantauan) dilakukan perawatan di rumah dengan pemantauan ketat dari Puskesmas domisili tempat tinggal melalui sistem telekomunikasi tidak langsung telpon, whatsapp, video call maupun pengawasan secara langsung dengan protokol yang ketat dan terstruktur, di bawah pengawasan Dinas Kesehatan setempat. Pemeriksaan diagnostik dan pengobatan dilakukan melalui kunjungan rumah oleh tim lapangan dengan prosedur dan APD yang memadai.
-Pasien PDP (pasien dalam pengawasan) ringan hingga sedang, dilakukan perawatan di RS darurat COVID-19 seperti Wisma Atlit atau RS darurat lain yang ditunjuk Pemerintah. Wisma atlit saja yang awalmya adalah hotel bisa digunakan menjadi rumah sakit.

- Pasien PDP berat yang memerlukan perawatan intensif atau pengawasan ketat dirawat di rumah sakit rujukan COVID-19 yang sudah ditunjuk dan dilengkapi dengan fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai. Contohnya rumah sakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Rs. Persahabatan, dll.
Sekarang apa yang dilakukan oleh masyarakat mengenai hal ini? Masyarakat hanya dapat melakukan langkah kecil sebagai berikut:
1. Tidak keluar rumah jika tidak perlu
hal ini adalah langkah untuk mencegah terpaparnya virus corona, selain itu ini adalah hal yang efektif utuk mencegah penularan virus corona,
2. Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer,
hal ini dianjurkan untuk mencegah adanya virus yang menempel ditanagan terutama setelah memegang benda yang telah dipegang oleh banyak orang Ada perbedaan mencuci tangan dengan hand sanitizer atau dengan sabun yaitu sebagai beriut:

Gunakan hand sanitizer bila berada ditempat yang umum yangtidak memungkinkan untuk mencucu itangan dengan sabun, karena hand sanitizer juga memiliki beberapa efek samping

3. Physical distancing
menjaga jarak antar sesama individu, untuk mencegah terpaparnya virus, karena banyak orang yang tidak memiliki gejala covid-19, tapi telah terinfeksi. terutama di tempat umum, biasanya disetiap kursi ditempat umum telah ditandai oleh solasi untuk menjaga jarak duduk antar individu, dan tempat untuk berdiripun telah ditentukan dengan memberi garis dilantai, terutama ditempat untuk mengantri, didalam bus ataupun keretapun penumpang dilarang untuk duduk atau berdiri berdekatan.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar